JAKARTA, Senin (21/9/2026) — Berada di garda depan peringatan Hari Perdamaian Dunia, Gedung Juang Suryakencana yang berlokasi di Jalan H. Juanda Raya No. 44, Jakarta Pusat, menjadi saksi bisu berkumpulnya para pemikir, tokoh spiritual, dan pegiat perdamaian pada Senin, 21 September 2026. Sebuah diskusi mendalam digelar untuk membedah muatan filosofis serta pesan moral yang terkandung dalam Kitab Ma Ha Is Ma Ya karya Eko Sriyanto Galgendu.
Acara bergengsi yang diinisiasi atas kolaborasi Persatuan Wartawan Nasrani Indonesia (Pewarna), Nusantara Center, Yayasan Semar Suryakencana Cipto Amalindo, serta Gerakan Moral Rekonsiliasi Indonesia ini menghadirkan refleksi kebangsaan yang sarat makna.
Spiritualitas Nusantara: Pondasi Keterbukaan dan Kedamaian
Dalam pemaparannya, tokoh spiritual sekaligus penulis buku, Eko Sriyanto Galgendu (Sri Eko Galgendu), memberikan narasi yang menggetarkan sanubari tentang jati diri bangsa. Ia menegaskan bahwa Indonesia adalah bangsa spiritual sejati—sebuah realita yang terbukti dari sejarah panjang keterbukaan masyarakat Nusantara dalam menerima berbagai ajaran agama dan kebudayaan dunia dengan penuh kehangatan.
“Jika bangsa Nusantara tidak bertuhan, tidak mungkin kita menerima bangsa-bangsa lain beserta keberagaman agamanya. Kesuburan tanah air ini adalah bukti nyata bahwa kita adalah bangsa yang terpilih,” ungkapnya.
Beliau juga menyandingkan pesan luhur Kitab Ma Ha Is Ma Ya tentang pengenalan diri dengan ajaran universal: “Kenali dirimu sendiri sebelum engkau mengenali orang lain.”
Pesan Luhur Ma Ha Is Ma Ya
Kitab Ma Ha Is Ma Ya karya Eko Sriyanto Galgendu ini dipandang bukan sekadar karya tertulis, melainkan kompas moral yang merangkum:
Karakter & Keberanian: Membentuk jiwa kepemimpinan yang berlandaskan nilai-nilai luhur dan doa.
Kehormatan Tanah Air: Menegaskan bahwa bumi, air, dan tanah Nusantara adalah lambang harga diri bangsa yang wajib dijaga.
Empati Pemimpin: Prinsip kemanunggalan nurani—“Suatu waktu rakyat menderita, aku pun menderita.”
Semangat Progresif Revolusioner: Panggilan bagi para abdi bangsa untuk secara sigap mengejar ketertinggalan demi kesejahteraan bersama.
Membangun Persatuan Melalui Doa dan Dharma
Keunikan tradisi spiritual bangsa terletak pada keikhlasan mendoakan sesama. Prinsip mendoakan orang lain sebelum mendoakan diri sendiri, saling membantu, serta saling mengingatkan adalah fondasi kokoh untuk merawat persatuan nasional.
Di tengah percaturannya, Jakarta sebagai kota global dipandang sebagai titik temu berbagai sektor kehidupan, di mana spiritualitas harus tetap menjadi kompas utama dalam menjaga dharma (perbuatan baik). Dalam kesempatan ini, ditegaskan pula figur Sri Sultan Hamengku Buwono XII sebagai simbol Bapak Spiritual Perdamaian Dunia.
Waktunya Bangsa Menulis Sejarahnya Sendiri
Diskusi ini menggarisbawahi pentingnya kesadaran sejarah. Sudah saatnya bangsa Indonesia berhenti hanya mengagumi dan membicarakan sejarah bangsa lain, lalu mulai menggali serta memperjuangkan takdir sejarahnya sendiri sesuai kehendak Tuhan yang terpatri di dalam sanubari.
Esensi Kepemimpinan Masa Depan:
Memulai dari Hati: Setiap profesi dan langkah politik harus berlandaskan integritas batiniah.
Sinergi Pemimpin Politik & Spiritual: Pemimpin politik membutuhkan pendamping spiritual untuk membaca zaman (mensekener) dan mengawal nurani kekuasaan.
Pesan Sing Ha Maha Raja: Suara hati nurani adalah istana kerajaan Tuhan.
Kepemimpinan Berjiwa Bramana Yo Kesatrio: Menghadapi situasi zaman yang keras, dibutuhkan keberanian Brawijaya (babat alas) yang berpadu antara kebajikan spiritual dan keteguhan ksatria.
Melalui perhelatan pada 21 September 2026 ini, pesan perdamaian dari Gedung Juang Suryakencana bergema jernih: perdamaian peradaban hanya akan terwujud apabila kemajuan zaman berjalan selaras dengan cita-cita luhur dan spiritualitas tanah air.


