JAKARTA UTARA — Karang Taruna Kelurahan Rorotan, Kecamatan Cilincing, Jakarta Utara, resmi meluncurkan gagasan ruang perjumpaan kepemudaan bertajuk “Ruang Pemuda RAMU” pada Sabtu malam (31/10/2026). Mengambil tempat di Lapangan Tenis Meja Malaka Jaya RT 02 RW 011 Kelurahan Rorotan, perhelatan yang berlangsung hangat dari pukul 20.00 hingga 23.00 WIB ini difokuskan pada penguatan nilai kesetiakawanan sosial serta penegasan peran strategis pemuda dalam meretas berbagai persoalan lingkungan sekitar.
Sesuai namanya, RAMU dihajatkan sebagai ruang dialektika kritis berkelanjutan untuk mengumpulkan, meracik, dan meramu gagasan solutif atas dinamika sosial di tingkat akar rumput. Melalui forum diskusi ini, generasi muda didorong untuk tetap adaptif, kreatif, serta teguh memegang karakter berbudi luhur di tengah arus perubahan zaman. Ungkap Arif selaku ketua Karang Taruna Kelurahan Rorotan.
Sebagai langkah konsisten, program Ruang Pemuda RAMU diproyeksikan hadir secara bergilir (road show) menembus 14 wilayah RW se-Kelurahan Rorotan. Di setiap simpulnya, kegiatan ini akan merangkul para mentor lintas disiplin untuk hadir mendampingi serta memantik kedalaman substansi diskusi.
Tokoh agama dan ulama Rorotan, KH. A. Muklis Fadlil, hadir langsung memberikan dukungan sekaligus menjadi narasumber utama. Dalam kehangatan diskusi, beliau menggarisbawahi tradisi “duduk sama rendah, berdiri sama tinggi” yang dihadirkan oleh wadah RAMU.
“Kegiatan duduk bersama secara egaliter seperti yang dilakukan anak-anak muda di RAMU ini adalah ikhtiar nyata membangun getok tular—sebuah proses perjumpaan kolektif untuk belajar menempa kedewasaan, menilai situasi, serta bersikap tepat atas persoalan yang ada di lingkungan kita. Ketika pemuda mau duduk bersama merendahkan hati untuk saling mendengar, di situlah benih kesetiakawanan sosial dan pemahaman tumbuh secara alami,” tegas KH. A. Muklis Fadlil. sebagaimana ilustrasi yang disampaikan tempat yang rendah akan diisi air.
Sementara itu, jurnalis sekaligus aktivis kebudayaan, Nur Rokhim yang akrab disapa Cak Rokhim (JW), memberikan penekanan mendalam terkait esensi proses pembelajaran dan penguatan kapasitas generasi muda. Dalam momentum tersebut, Cak Rokhim juga secara khusus mensosialisasikan gerakan Taruna Tani yang diinisiasi oleh Pondok Budaya sebagai langkah konkrit pemberdayaan pemuda di sektor agraria dan lingkungan.
“Belajar adalah ikhtiar tiada henti untuk meningkatkan kualitas diri. Bentuknya sangat luas—bisa lewat membaca teks, merenungi fenomena, merawat silaturahmi, hingga ruang-ruang dialog interaktif seperti yang diselenggarakan RAMU malam ini. Dari cara membangun kualitas waktu yang produktif inilah fondasi character building generasi muda terbentuk,” ujar Cak Rokhim.
“Melalui wadah Taruna Tani Pondok Budaya, kita mengajak pemuda untuk melangkah lebih jauh dalam proses kaderisasi ekologis dan ekonomi kreatif. Anak muda harus ambil bagian dalam menjaga ketahanan pangan dan belajar mengolah tanah lingkungan kita agar menjadi lebih produktif dan membawa keberkahan bersama. Pemuda yang berkarakter bukan hanya pandai berwacana, tapi juga mampu menyatu dengan bumi tempatnya berpijak,” tambahnya.
Suasana forum semakin hidup saat sesi tanya jawab dan dialog terbuka dibuka. Para kader Karang Taruna RT 011 antusias melontarkan pertanyaan, pandangan, serta aspirasi terkait tantangan sosial dan potensi lingkungan di sekitar mereka.
Kehangatan acara kian lengkap dengan hadirnya Agus, Hakim dari pengurus Banser Cilincing serta Noval selaku perwakilan Lesbumi NU Jakarta Utara (NUJU). Keduanya berkesempatan memberikan suntikan motivasi serta penguatan moral, mengimbau agar kesadaran dan spirit kolektif Karang Taruna Rorotan tidak surut dan terus menjadi motor penggerak kebaikan serta kebudayaan di kawasan pesisir Jakarta Utara. (BU)


