BerandaUncategorizedNyanyian Zaman di Rorotan: Ketika Santri, Senmani, dan Pemuda Menenun Asa dalam...

Nyanyian Zaman di Rorotan: Ketika Santri, Senmani, dan Pemuda Menenun Asa dalam Gema Sumpah Pemuda

Di bawah langit malam Jakarta yang menyimpan riuh rendah zaman, jarum jam menunjuk pukul 20.00 WIB, Selasa (27/10/2026). Di sebuah ruang batin yang mempertemukan pesantren dan kebudayaan—Pondok Budaya Rorotan Ponpes Ash Sholihin Al Abror—waktu sejenak melambat. Lampu-lampu temaram memantulkan kehangatan, menyambut malam di mana gema Refleksi Sumpah Pemuda tidak sekadar diingat sebagai arsip sejarah, melainkan dihidupkan kembali melalui denyut nadi seni, doa, dan dialog nurani.

Acara bertajuk “Refleksi Sumpah Pemuda” ini tentu bukan sekadar seremoni. Ia adalah perayaan kultural yang lahir dari rahim kolaborasi lintas elemen: sinergi hangat antara Karang Taruna RW 6 Rorotan, Taruna Tani MAJU, Lesbumi NUJU, serta tuan rumah Pondok Budaya Rorotan. Di sini, sarung dan ikrar kebangsaan berpadu dalam satu irama, membuktikan bahwa rumpun pemuda dan santri senantiasa merawat akar bumi pertiwi.

Titik Temu Gagasan: Menjaga Denyut, Merajut Sinergi

Malam kian larut, membawa serta angin malam Rorotan yang berbisik di antara bilik-bilik pesantren. Sesi menyampaikan pandangan dan orasi kebudayaan dibuka dengan gayeng dan bernas oleh Jogo Wengi, sang pembawa acara yang sekaligus telaten mengenalkan Taruna Tani MAJU—sebuah gerakan ketahanan pangan berbasis budaya dan kepemudaan di lingkungan pondok budaya

Rizaldi membuka lembaran diskusi dengan harapan besar agar kehadiran Pondok Budaya mampu menjadi simpul sinergi yang erat bersama karang taruna wilayah, merangkul energi muda dalam karya nyata. sedang Agus, dari unsur Banser yang selalu setia membersamai setiap langkah dan denyut kegiatan di Pondok Ash Sholihin Al Abror, menegaskan keteguhan barisan dalam menjaga keutuhan umat dan bangsa.

Tidak ketinggalan Syam, selaku seniman film yang mewakili Pondok Budaya Rorotan, memotret bagaimana lensa kebudayaan mampu merekam perjalanan sejarah dan peradaban bangsa. Pandangan kritis menjadi bagian penguatan nutrisi pagi para peserta yang hadir dalam acara refleksi tersebut.

Panggung Kesenian: Sajak, Silat, dan Senandung Jiwa

Ketika gagasan telah berlabuh dalam kata, seni pun berbicara dengan bahasa rasanya yang paling dalam. Panggung pertunjukan malam itu berubah menjadi kanvas hidup yang digoreskan oleh para seniman Lesbumi NUJU:

Alunan syahdu pembacaan sajak “Anaraka” menggetarkan dinding-dinding permenungan, meresap ke dalam relung sanubari setiap yang hadir. Penuh luapan dan mempertanyakan posisi pemuda agar berkaca kepada para Jong yang bergabung dalam sumpah pemuda.

Musisi Iweng kemudian mengambil alih keheningan, memetik dawai gitar dan melantunkan karya-karya lagunya yang membumi, menyatu dengan gemerisik angin malam Rorotan.

Penampilan Guru Burhan dan Suheng beserta sang buah hati dari Padepokan Mapsal menampilkan atraksi pencak silat. Gerak jurus yang elok dan bertenaga bukan sekadar olah tubuh, melainkan manifestasi pertahanan identitas dan warisan luhur para leluhur.

acara malam refleksi ditutup dengan kehadiran pencipta lagu sekaligus penyanyi fenomenal, Ndargondes (Dariyanto). Suara dan penampilannya berhasil merajut tawa, keakraban, dan gelora semangat, menyatukan seluruh elemen dalam kehangatan malam sumpah pemuda.

Refleksi Sumpah Pemuda di Pondok Budaya Rorotan Ponpes Ash Sholihin Al Abror malam itu ditutup bukan dengan bubar, melainkan dengan ikrar diam-diam yang tertanam di dada setiap pemuda yang hadir. Bahwa semangat persatuan, kecintaan pada kebudayaan, dan ketulusan berkontribusi bagi masyarakat tidak akan pernah padam oleh zaman.

Dari Rorotan, Jakarta Utara, nyala itu kini kembali diteruskan—menerangi jalan pulang bagi generasi yang senantiasa merawat Indonesia dengan cinta dan karya. (BU)

 

 

RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -spot_img

Most Popular

Recent Comments