JAKARTA — Suasana halaman Kantor PCNU Jakarta Utara tampak berbeda pada Minggu malam (18/10/2026). Tanpa sekat panggung formal, deretan tikar dibentang menyatu dengan tanah, menyambut kehadiran jajaran pengurus, aktivis, hingga warga sekitar. Dalam rangka merespon Peringatan Hari Santri Nasional, Lembaga Seni Budaya Muslimin Indonesia Nahdlatul Ulama Jakarta Utara (Lesbumi NUJU) menggelar dialog Gelar Tikar bertema “Meneruskan Juang, Merawat Jiwa Kebangsaan” yang berlangsung merakyat, hangat, namun kaya akan makna.
Rangkaian acara diawali dengan pembacaan Istighotsah, dilanjutkan dengan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya dan Yalal Waton (Hubbul Wathon minal Iman) yang membakar semangat nasionalisme para peserta. Kehangatan malam semakin terasa saat panggung lesehan diwarnai dengan penampilan seni tari serta pembacaan puisi menggelegar oleh sastrawan Lesbumi NUJU.
Eko Sriyanto Galgendu selaku pencetus Kitab Ma Ha Is Ma Ya dan Ketua Gerakan Moral Rekonsiliasi Indonesia (GMRI), memaparkan pandangannya mengenai kesadaran spiritual dalam memahami jati diri manusia.
“Dalam persoalan jati diri, terdapat zat-Nya yang bersemayam dalam diri setiap manusia. Artinya, ketika seseorang telah mengenali dirinya dengan baik, ia pasti akan memahami tugas dan peran hidupnya sesuai dengan potensi yang diberikan oleh Tuhan,” ujar Eko Sriyanto di hadapan para peserta yang duduk melingkar.
Eko juga menguraikan bagaimana kesadaran tersebut menjadi musabab lahirnya semangat perjuangan para santri dan tokoh Nusantara. Ia meneladani kiprah para raja dan tokoh sejarah—seperti Raden Patah, Sultan Ageng Tirtayasa di Banten/Batavia, Sri Mangkunegara di Jawa Tengah, hingga Prabu Siliwangi dari Pajajaran—sebagai bukti nyata bahwa rasa cinta tanah air merupakan bagian tak terpisahkan dari keimanan.
Sementara itu, Ketua LAKPESDAM PCNU Jakarta Utara, Bung Akmal, mengorelasikan tema “Meneruskan Juang, Merawat Jiwa Kebangsaan” dengan melestarikan seni budaya bangsa sebagai media penanaman nilai agama dan peradaban.
“Seni dan budaya merupakan media tuntunan, alat menanamkan nilai-nilai spiritual, moral, dan kebangsaan secara halus namun meresap ke dalam jiwa masyarakat,” ungkap Bung Akmal seraya mengajak kolaborasi lintas lembaga dalam penguatan gerakan pemikiran dan dakwah kultural di Jakarta Utara.
Konsep Gelar Tikar secara outdoor ini terbukti menjadi obat kerinduan bagi para jemaah dan aktivis yang merindukan ruang perjumpaan yang santai, setara, dan penuh kekeluargaan.
Antusiasme peserta kian hidup saat sesi dialog dan elaborasi dibuka secara terbuka. Sejumlah tokoh lokal Jakarta Utara yang hadir—di antaranya Gus Mat, Bung Yusron (aktivis Jakarta Utara), Ustadz Fardian, serta Ibu Hartini—secara bergantian menyampaikan pandangan dan gagasannya. Mereka kompak berharap agar tradisi Gelar Tikar ini tidak berhenti sebagai momentum incidental saja, melainkan konsisten diselenggarakan secara rutin.
Aspirasi dan kerinduan warga tersebut direspon hangat oleh jimpinan tertinggi PCNU Jakarta Utara. Rais Syuriah KH. Nasikhin Zain dan Ketua Tanfidziyah KH. Agus Muslim secara langsung menyampaikan apresiasi tinggi dan mendukung penuh agar kegiatan Gelar Tikar ini dapat dipatenkan menjadi agenda berkala PCNU Jakarta Utara.
Melalui kesederhanaan bentangan tikar, perpaduan do’a, seni, dan diskusi mendalam ini, Lesbumi NUJU berhasil membuktikan bahwa nilai-nilai kebangsaan dan peradaban paling efektif dirawat melalui perjumpaan kebudayaan yang merakyat. (JW)


